Ke Dalam Penjara Aung San Suu Kyi Ternyata Kembali & Jenderal Than Swe Yang Pongah Seakan “Menang”

TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM & DIMUAT JUGA DI WWW.KATAKAMI.VOX.COM & WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM

 

Jakarta 15/5/2009 (KATAKAMI)  Rasanya di hari yang hampir bersamaan, secara berturut-turut terdengar kabar yang secara tidak langsung saling berkaitan. Kabar pertama adalah ketidak-yakinan Pemerintah Thailand bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN & Asia Timur yang harusnya dilakukan bulan Juni mendatang, bisa terlaksana sesuai jadwal. Tentu dunia internasional sudah mengetahui bahwa situasi keamanan dalam negeri di Thailand memang cukup memprihatinkan sejak setahun terakhir akibat bongkar pasang kepemimpinan yang tak berkesudahan di Thailand.

Kabar lainnya yang menyusul setelah itu adalah tentang penahanan Tokoh Oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang dijebloskan ke dalam penjara dan awal pekan depan akan mulai diadili.

Seperti yang dilaporkan Radio Voice Of America (VOA), pengacara dari pemimpin pro-demokrasi Aung San Suu Kyi mengatakan pihak berwajib Birma telah membawa kliennya  ke tahanan dan dituduh melanggar persyaratan  tahanan rumahnya.

Pemenang hadiah Nobel yang berusia 63 tahun itu dibawa dari rumahnya hari Kamis dan dimasukkan ke Penjara Insein Rangun, dimana pihak berwajib mengatakan peradilannya akan mulai Senin (18/5/2009) depan.

Pengacara Kyi Win mengatakan kasus tersebut berhubungan dengan kunjungan tanpa izin pekan lalu oleh seorang warga Amerika ke rumah Aung San Suu Kyi.  Ia mengatakan warga Amerika itu, John Yettaw, juga akan didakwa karena memasuki zona terlarang.

Yettaw ditahan oleh polisi setelah ia memasuki rumah Aung San Suu Kyi dengan berenang menyeberangi danau dan tinggal disana selama dua hari.

Peradilan itu diadakan pada saat yang genting bagi Aung San Suu Kyi yang telah ditahan selama 13 dari 19 tahun terakhir. Peradilan tersebut dapat mengakibatkan perpanjangan penahanannya lagi, yang akan habis pada akhir bulan ini.

Kedua kabar ini memang tidak berhubungan secara langsung tetapi disaat mendengar kabar bahwa Aung San Suu Kyi “pindah lokasi” dari tahanan rumah ke tahanan yang sesungguhnya yaitu didalam jeruji besi, maka ingatan siapapun akan tertuju kepada negara-negara anggota ASEAN yang menjadi “rekan seperjuangan” yaitu sesama anggota ASEAN dengan Myanmar.

Sikap keras kepala dari Jenderal Senior Than Swe sebagai pemimpin tertinggi Junta Militer Myanmar, mau tak mau menjadi beban moral yang sangat besar bagi seluruh anggota ASEAN, termasuk Indonesia tentunya.

Ibaratnya orang berteriak, maka untuk permasalahan Aung San Suu Kyi ini semua pihak (terutama ASEAN) seakan-akan sudah sekuat tenaga berteriak agar Junta Militer Myanmar menepati dan melaksanakan “ROAD MAP TO DEMOCRACY” atau peta jalan menuju demokratisasi.

Suu Kyi menjadi tahanan rumahpun, semua pihak sangat menyayangkan dan terus mendesak agar ia bisa dibebaskan dari status tahanan rumah. Nah, sekarang situasinya bukan justru membaik tetapi malah semakin buruk.

Padahal hanya dalam hitungan hari ke depan, idealnya status tahanan rumah bagi Suu Kyi akan berakhir. Namun garis tangan Suu Kyi tampaknya tidak akan berubah jauh yaitu dari tahanan ke tahanan. Cuma bedanya, selama ini menjadi tahanan rumah maka sekarang menjadi tahanan yang sesungguhnya didalam penjara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebenarnya sudah terus secara konsisten “menekan secara halus” agar Junta Militer Myanmar bersedia melakukan reformasi politik dengan cara membebaskan seluruh tahanan politik, termasuk Aung San Suu Kyi.

Sekjen PBB Ban Ki Moon bolak-balik mengutus Ibrahim Gambari sebagai Pejabat Utusan Khusus PBB untuk datang menemui Suu Kyi.

Bulan Februari 2009 lalu misalnya, pemenang hadiah Nobel itu meminta agar Gambari menyampaikan pesannya agar Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon tidak usah berkunjung ke Myanmar sebelum ia bersama tahanan politik yang lain dibebaskan.

Jurubicara PBB yang berkedudukan di Myanmar menggambarkan bahwa pertemuan Suu Kyi dan Gambari pada bulan Februari di Wisma Negara di Rangoon itu berjalan dengan sangat signifikan dan diakui ada langkah maju. Padahal sempat, di ahun 2008 lalu Aung San Suu Kyi tidak mau bertemu Gambari dengan alasan upaya Gambari selama ini tidak efektif.

Kini, entah apa yang akan menjadi reaksi dan pernyataan resmi dari PBB setelah Suu Kyi bukannya dilepaskan tetapi malah dijebloskan ke dalam penjara.

Satu-satunya harapan yang memiliki legitimasi dan kekuatan formil untuk menekan Myanmar hanyalah PBB.

Dengan dijebloskannya Suu Kyi ke dalam penjara dan siap untuk diadili, Ban Ki Moon harus mencari formula diplomasi dalam bentuk yang lain agar legitimasi dan kekuatan formil di tangan PBB itu tidak menjadi sia-sia.

Apa gunanya PBB alias UN mengirim Ibrahim Gambari berkali-kali ke Rangoon untuk menemui Suu Kyi, kalau ternyata kunjungan itu tidak membuahkan hasil apapun yang menjadi langkah maju yang benar-benar maju ?

Sangat wajar jika Suu Kyi dikabarkan pesimis terhadap gaya diplomasi PBB yang lentur dan tak ampuh untuk membuat sikap pongah Junta Militer Myanmar menjadi kendur.

Bagaimana mungkin, ada sebuah organisasi yang mewadahi negara-negara di muka bumi ini, tak mampu mengurusi sebuah permasalahan pelik yang mengangkangi persoalan hukum, HAM dan demokrasi ?

 

Dan satu hal yang juga menarik untuk dicermati, siapa sebenarnya pria berkewarga-negaraan Amerika Serikat yang datang mengunjungi Aung San Suu Kyi dengan cara berenang menyeberangi danau agar bisa mencapai rumah Suu Kyi.  John Yettaw, bahkan sampai menginap 2 hari di rumah Suu Kyi yang jelas-jelas ditetapkan sebagai zona terlarang oleh Junta Militer Myanmar.

Hanya tinggal setengah bulan lagi, masa tahanan rumah untuk Suu Kyi berakhir tetapi datang “musibah” seperti ini !

Jika John Yettaw itu adalah rekan atau sahabat Suu Kyi maka yang harus dipertanyakan kepada dirinya adalah, “Mengapa melakukan tindakan nekat ini ditengah semakin menguatnya desakan semua pihak agar Suu Kyi bisa secepatnya menghirup udara segar ?”

Apakah patut dapat diduga ada konspirasi yang hendak memancing di air keruh, dimana pihak-pihak yang tidak menginginkan Suu Kyi bebas dari masa kelam penahanannya yang sudah berjalan selama 13 tahun ini, sengaja merekayasa sebuah kenekatan yang konyol ini ?

Tetapi mengingat tamu itu diizinkan Suu Kyi menumpang di rumahnya selama 2 hari, paling tidak antar mereka memang saling mengenal. Lalu pertanyaannya, mengapa Suu Kyi melakukan membiarkan hal semacam ini terjadi pada dirinya ?

Ia menganggap langkah dan gaya diplomasi PBB selama bertahun-tahun ini tidak efektif !

Tetapi, jika Suu Kyi mau lebih bijaksana, dalam menghadapi tipikal rezim yang otoriter dan patut dapat diduga memang mengidap “tuna rungu politis” maka jalan terbaik yang harus dilakukan untuk sementara waktu adalah mengikuti gendang permainan Junta Militer Myanmar.

Barangkali Suu Kyi tidak yakin bahwa dunia internasional peduli kepada dirinya !

Kalau benar Suu Kyi tidak yakin bahwa dunia internasional sungguh sangat peduli kepada dirinya yang terpasung dalam ranjau rezim penguasa Myanmar, hal ini sangat memprihatinkan.

Apakah Suu Kyi sudah kehilangan semangat, keberanian dan sikap optimisme sehingga membuat dirinya menjadi masa bodo dan terdorong untuk menantang alias membangkang dari aturan-aturan kaku dari Junta Militer Myanmar ?

Pasti Suu Kyi mengetahui bahwa ia tidak boleh menerima tamu tanpa izin, apalagi membiarkan tamu asing menginap di zona terlarang seperti itu. Namun, Suu Kyi mengizinkan !

Jika Suu Kyi memang sudah sangat apatis dan sekarang berbalik untuk menantang balik Junta Militer Myanmar, maka bisa dipahami jika perempuan pemberani ini tak gentar berhadapan dengan proses hukum yang akan digelar awal pekan depan terhadap dirinya.

Dan rekan yang mengunjungi Suu Kyi dengan cara berenang itu, sungguh gegabah dan bisa dituding sebagai biang kerok yang ingin mengacaukan semua upaya melepaskan Suu Kyi dari tahanan rumahnya.

Setidaknya, ini menjadi sebuah masukan yang sangat berarti untuk Pemerintahan Presiden Barack Obama, yang selama ini memang dikenal dan diakui konsistensi AS dalam menyerukan tegaknya demokrasi di Myanmar (khususnya desakan agar Junta Militer Myanmar melepaskan Aung San Suu Kyi).

Sungguh sangat ironis, sebab disatu pihak AS mendesak agar Suu Kyi dibebaskan, tapi kini … di pihak lain, ada seorang warga AS yang bertindak gegabah dan membuat pemimpin oposisi Myanmar itu harus mendekam lagi di penjara karena kenekatan sang tamu.

Walau KTT ASEAN tampaknya akan tertunda lagi di Thailand pada bulan Juni depan, diharapkan seluruh negara anggota ASEAN meluangkan waktu khusus untuk memonitor secara dekat peradilan yang akan digelar terhadap Aung San Suu Kyi pada awal pekan depan.

PBB juga harus cepat mengirimkan perwakilannya untuk menghadiri dan memantau langsung perkembangan proses persidangan itu (dari awal hingga akhir masa persidangan).

Waktu cepat terasa cepat berlalu. Tetapi, berlalunya sang waktu seakan tak berarti dan tak meninggalkan buah apapun dari upaya diplomasi PBB selama ini.

Sebab, permasalahan Aung Suu Kyi seakan kembali ke TITIK NOL !

Poor Suu Kyi.

Ya, betapa malang nasib Aung San Suu Kyi …

 

(MS)

Ampun Gusti, Satpamnya Kandidat Cawapres SBY (Boediono) Menabok Kepala Wartawan SCTV Sampai Bocor Berdarah-Darah. Sadis Sekali, Merasa Paling Jago Ya?

 

DIMUAT JUGA DI WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM , WWW.KATAKAMI.COM  & DI WWW.KATAKAMI.VOX.COM

 

Jakarta 14/5/2009 (KATAKAMI) Entah dari mana harus memulai tulisan seputar keprihatinan kami tentang aksi kekerasan yang kembali terjadi pada wartawan di Indonesia. Hanya dalam hitungan jam ke depan, Susilo Bambang Yudhoyono akan mengumumkan bahwa dirinya akan memilih Gubernur Bank Indonesia Boediono untuk menjadi Calon Wakil Presiden (CAWAPRES) untuk maju ke Pemilihan Umum (Pemilu) Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 8 Juli 2009 mendatang. Insiden kekerasan justru terjadi di Bank Indonesia, yang dipimpin oleh Boediono. Insiden kekerasan itu mengakibatkan bocornya dan sampai berdarah-darah dari kepala dari rekan tercinta kami, Carlos Pardede dari SCTV.

 

Dan sejenak, mari … kami ajak anda untuk membaca berita yang terkait insiden ini yang termuat di http://www.liputan6.com

Liputan6.com, Palu: Puluhan jurnalis dari media cetak dan elektronik di Palu, Sulawesi Tengah, berunjuk rasa ke kantor Bank Indonesia (BI) Palu, Kamis (14/5). Mereka menggelar aksi solidaritas untuk memprotes kekerasan yang dilakukan satpam BI pusat kepada reporter SCTV Carlos Pardede.

Mereka membawa selebaran dan pamflet yang bertuliskan protes dan kecaman atas kekerasan yang menimpa Carlos hingga masuk rumah sakit. Di depan kantor BI, wartawan menggelar orasi damai yang intinya menuntut agar pihak BI memberi sanksi tegas kepada oknum satpam bersangkutan.

Dalam aksi ini, para wartawan juga mengumpulkan kartu identitas pers serta peralatan liputan di depan pintu masuk BI sebagai bentuk protes atas kekerasan terhadap wartawan. Selama aksi mereka juga menutup mulut dengan menggunakan lakban.

Menanggapi aksi tersebut, pihak BI Palu yang diwakili staf humasnya, Ilham, meminta maaf atas tindakan oknum petugas keamanan BI pusat. Ilham berharap peristiwa ini tidak akan terjadi di Palu maupun daerah lain.

Ya memang, itu dilakukan oleh tangan-tangan jajaran satpam semata. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah satuan tugas pengamanan bagian dalam Bank Indonesia tersebut, berhak melakukan kekerasan brutal kepada JURNALIS ?

Tanpa bermaksud untuk mendeskreditkan Gubernur Bank Indonesia, Boediono, insiden kekerasan ini akhirnya menjadi tamparan tersendiri bagi calon “pengantin politik” SBY – Boediono, yang rencananya akan mendeklarasikan ijab kabul politik mereka pada hari Jumat (15/5/2009).

Boediono pribadi, adalah sosok yang rendah hati dan pendiam.

Ia cenderung tidak banyak bicara tetap gigih untuk bekerja sangat keras di bidang perekonomian.

Tetapi insiden di Bank Indonesia, adalah sesuatu yang harusnya direspon oleh Boediono secara cepat dan baik. Paling tidak, ia berbicara kepada wartawan untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Atau, kalau bukan Boediono yang muncul, maka Jajaran Direksi Bank Indonesia bisa menjadi “jurubicara” untuk menyampaikan permohonan maaf yang resmi.

Tetapi, permohonan maaf itu tidak ada dari jajaran petinggi Bank Indonesia. Yang marak di media massa adalah berbagai aksi solidaritas dari kalangan jurnalis di berbagai daerah.

Dan tulisan ini adalah bentuk solidaritas dan keprihatinan kami yang sangat mendalam.

Kami berbicara bukan cuma untuk satpan-satpam Bank Indonesia yang patut dapat diduga menghalalkan tindakan brutal tidak manusiawi dalam menjalankan tugasnya.

Satpam pula !

Inilah Indonesia, terjadi pergeseran kultur di negeri ini. Sebab, kalangan sipil mendadak sontak berubah menjadi lebih militer dari militer itu sendiri. Disaat TNI sudah tampil begitu reformis dan sangat merakyat, sekarang justru kalangan sipil yang sok militeristis.

Sekali lagi, Satpam pula !!!

Kami teringat pernyataan dari Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara beberapa bulan lalu saat bertemu dengan KATAKAMI.COM di Gedung Dewan Pers bahwa pemerintahan SBY adalah masa yang paling buruk dalam sejarah perjalanan bangsa terhadap kebebasan, kemerdekaan dan keselamatan PERS NASIONAL.

Sehingga, lanjut Leo Batubara, jika pada akhirnya SBY maju dalam Pilpres 2009 maka PERS NASIONAL harus siap-siap untuk tetap (bahkan bisa jadi lebih parah kondisinya) jika nanti yang menang adalah SBY.

Sekarang, terjadi insiden kekerasan yang justru terjadi “di dalam pekarangan rumah” dari Bank Indonesia yang dipimpin oleh Boediono, kandidat Cawapres SBY.

Mengapa begitu susah bagi aparat atau petugas di kalangan PEMERINTAHAN ini untuk menghargai JURNALIS yang bertugas di lapangan atau menunjukkan eksistensi dirinya dalam karya-karya jurnalistik ?

Yang tak senang dengan kritikan dari KATAKAMI.COM misalnya (terutama yang punya borok, aib atau dugaan pelanggaran hukum) maka dengan sangat brutal adn biadab … bisa terus menerus melakukan teror, tekanan, intimidasi dan pengrusakan terhadap SITUS KATAKAMI dan semua blog KATAKAMI yang tersebar dibeberapa tempat.

Yang tak senang dengan ketegasan dan ketangguhan Carlos Pardede dalam meliput di Bank Indonesia misalnya, jajaran satpan bisa main gebuk saja seenak jidatnya !

Harusnya, sebelum menggebuk kepala Carlos Pardede, jajaran satpan itu perlu uji coba dengan menggebuk kepala mereka sendiri sampai bocor dan berdarah-darah. Rasakan dulu brutalisme itu, baru lakukan kepada orang lain.

Ada kalimat bijak yang mengatakan, “Lakukanlah, apa yang anda inginkan agar orang melakukan itu kepada anda. Dan jangan lakukan, apa yang anda tidak inginkan agar orang lain melakukan itu kepada anda !”.

Intinya, jangan melakukan tindakan apapun yang merugikan, mencelakai, merampas hak-hak dan berlaku brutal dengan cara apapun juga, jika anda memang tidak ingin semuanya itu mendatangkan dampak atau resiko tersendiri.

Sakit yang paling akut dari sejumlah Pejabat, Aparat Negara dan sekarang … jajaran satpan di Bank Indonesia adalah … patut dapat diduga, enteng saja melakukan kekerasan, brutalisme dan semua perbuatan tercela kepada orang lain (termasuk kepada PERS NASIONAL). Tetapi nanti jika dipermasalahkan, atau bahkan diproses secara hukum, patut dapat diduga akan berkelit, berkilah, dan bisa jadi makin brutal agar jangan sampai terseret ke muka hukum.

Hargailah wartawan !

Sebab wartawan itu bukan binatang. Wartawan juga bukan sampah busuk !

Sembarangan saja, dan seenaknya saja, jika ada yang mempermalukan wartawan dengan sangat buruk dan melanggar ketentuan hukum.

Kami mengecam dengan keras insiden kekerasan yang mencelakai rekan seperjuangan kami, CARLOS PARDEDE.

Tolong, Bank Indonesia bersuara dengan penuh ketulusan dan menyampaikan permohonan maaf secara resmi. Jangan sok diam dong. Enak saja !

Ente sudah mencelakai wartawan, kok malah sok adem ayem !

Siapapun juga penguasa, pejabat dan pimpinan di muka bumi ini, hendaklah mereka bekerjasama dengan sangat baik kepada semua JURNALIS. Jangan perlakukan JURNALIS dengan sangat tidak manusiawi. Pakai akal dong kalau bertugas. Selain itu, pakai otak dan hati yang bersih.

Sehingga, dalam menjalankan semua tugas-tugas pengabdiannya di republik ini, setiap anak bangsa dapat saling bekerja sama dan saling menghormati satu dengan yang lainnya.

Carlos, kami ikut berduka untuk kau !

Jangan pernah takut atau ragu untuk mempermasalahkan ini ke muka hukum. Jalani dulu pengobatan sebaik mungkin agar kondisi kesehatan bsia pulih kembali.

Baru setelah itu, susun langkah untuk mengajukan ini ke muka hukum. Tentu, setelah terlebih dahulu melaporkannya secara resmi ke Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Komnas HAM.

Tak cuma berduka, kami sangat marah dan mengutuk sekeras-kerasnya siapapun juga di muka bumi ini yang memperlakukan wartawan seenaknya saja.

Didalam diri kami, mengalir darah WARTAWAN. Wartawan yang independen. Wartawan yang konsisten dalam menjalankan tugas yang berpegang pada prinsip kebenaran dan keadilan.

Hanya ada satu kata untuk menutup tulisan ini, LAWAN !

 

(MS)

Terkenang Saat Antasari Nyanyi Juwita Malam Tapi Kini Dipenjara, Selamat Polda Metro Jaya , Periksa Gories Mere, Lalu SBY Didesak Copot Kapolri BHD

Dimuat di (KLIK saja) http://www.redaksikatakami.wordpress.com dan http://www.theblogkatakami.wordpress.com

Dan dimuat juga di (Klik saja URL ini) :
http://www.katakami.com

Jakarta 4 APRIL 2009 (KATAKAMI) Bersamaan dengan hari pemeriksaan sekaligus penahanan Antasari Azhar di Rutan Polda Metro Jaya pada hari Senin (4/5/2009) ini, Group Musik terkenal SLANK berkunjung ke Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tetap memberikan dukungan terhadap upaya pemberantasan korupsi.

Antasari Azhar pernah berkunjung ke MARKAS SLANK tanggal 16 April 2008 dan ketika berada di GANG POTLOT itu mantan Direktur Penuntutan Pada Jampidum Kejaksaan Agung ini menyanyikan lagu JUWITA MALAM.

Jadi kalau METRO TV memasang lagu TOO MUCH LOVE WILL KILL YOU untuk menjadi backsound berita tentang penahanan Antasari Azhar pada Senin malam ini, KATAKAMI.COM lebih memilih memuat lirik lagu JUWITA MALAM. Intinya sama, sambil menyajikan berita-berita aktual maka ada baiknya diselingi dengan senandung-senandung yang menghibur. Tak ada maksud buruk dari MEDIA MASSA jika melakukan improvisasi.

Bicara tentang lagu JUWITA MALAM, saat menyanyikan lagu itu di GANG POTLOT di tahun 2008 lalu Antasari mengenakan JAKET KULIT HITAM. Ganteng habis ! Iya dong, pejabat tinggi negara yang biasa berjas, tiba-tiba berpenampilan yang “lain dari biasanya” yaitu mengenakan jaket kulit.  

Terbayang kalau misalnya suara berat Antasari menyanyikan lagu JUWITA MALAM itu, disenandungkan didepan RANI JULIANTI yang patut dapat diduga sengaja menghilangkan diri untuk lari dari kejaran hukum. Wah, bisa-bisa melambung tinggi khayalan saat mendengarkan lagu JUWITA MALAM dengan penuh perasaan. 

Mengapa kami membawa-bawa nama RANI JULIANTI ? Ya, karena patut dapat diduga perempuan muda berusia 22 tahun inilah yang menjadi pemicu perseteruan antara Antasari Azhar dengan Nasrudin Zulkarnaen.

Semua perkembangan memang bagaikan panggung sandiwara. Masih kental dalam ingatan kita saat Antasari menggelar jumpa pers di kediamannya hari Minggu (3/5/2009) kemarin. Sungguh sangat romantis saat bibir yang diselimuti KUMIS TEBAL itu menciumi sang isteri di hadapan wartawan yang hadir.  

Dan Senin (4/5/2009) ini, panggung sandiwara itu menyajikan babak berikutnya yang lebih mencengangkan.   

ANTASARI AZAHAR dijebloskan ke dalam PENJARA yaitu di RUTAN POLDA METRO JAYA.  

Habis sudah semua hiruk pikuk yang berisi bantahan dan pembelaan diri dari pihak Antasari Azhar. Dampak politis yang terberat dari penahanan Antasari Azhar ini ada di pundak PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO.   

Betul bahwa proses hukum sedang berjalan dan ada azas praduga tidak bersalah yang harus dihormati (presumption of innocent). Tetapi, secara moral penetapan status tersangka dan penahanan Antasari Azhar ini sudah mencoreng muka PEMERINTAHAN SBY.     

Inilah potret PEMERINTAHAN INDONESIA dibawah kepemimpinan SUSILO BAMBANG YUDHOYONO. 

Inilah yang patut dipertimbangkan oleh SBY saat dengan penuh antusias memasang poin keberhasilan pemberantasan korupsi dalam iklan-iklan politiknya.

Walau Antasari tidak terperosok dalam kasus korupsi tetapi kasus hukum yang kini menyeret nama Antasari Azhar adalah kasus yang jauh lebih memalukan yaitu patut dapat diduga Antasari adalah dalang pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen karena CINTA SEGITIGA.

Betapa malunya kalau misalnya kita yang jadi PRESIDEN SBY.       

     

Sudah tak bisa untuk pura-pura tenang dan berwibawa. Tragedi hukum yang menyeret nama Antasari Azhar pada kasus pembunuhan ini, sudah langsung merobohkan dan melenyapkan kepercayaan rakyat Indonesia kepada PRESIDEN SBY, demikian yang diungkapkan ADHIE MASSARDI, Jurubicara dari Kelompok Bangkit Indonesia.    

“Betul bahwa ada asas praduga tidak bersalah, itu harus kita hormati. Tetapi secara moral, dengan penetapan status tersangka dan penahanan Antasari maka tanggung-jawab moral yang sepenuhnya ada pada SBY. Kasus Antasari ini sudah menghancurkan sisa-sisa kepercayaan rakyat Indonesia. Apalagi yang mau dikatakan sekarang ? Apa masih mau didiamkan ? Copot dong Antasari, tidak bisa dibiarkan mengambang begini. Proses hukum memang harus berjalan tetapi jabatan Antasari sebagai Ketua KPK harus segera dicopot. Jadi kalau sekedar non aktif saja, percuma” kata Adhie Massardi lewat wawancara khusus dengan KATAKAMI.COM di Jakarta, Senin (4/5/2009).      

 

Dan menurut mantan jurubicara kepresidenan era Presiden Gus Dur ini, ada satu lagi pejabat yang harus dicopot oleh PRESIDEN SBY.

“Selain Antasari, SBY juga harus segera mencopot KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri sebagai wujud dari pertanggung-jawaban moral. Coba lihat permasalahannya, ada kasus pembunuhan yang sangat sadis di republik ini menyeret Pejabat Tinggi Negara yang lembaganya merupakan bagian tak terpisahkan dari Pemerintahan SBY. Dan hebatnya lagi, kasus pembunuhan itu dilakukan oleh POLISI ! Dimana tanggung-jawab BHD sebagai Kapolri ? Memang BHD tidak terlibat secara teknis.Tetapi seorang PANGLIMA harus secara kesatria memikul tanggung-jawab. Ini aib bagi Pemerintahan SBY, apakah Capres Partai Demokrat ini akan tetap mempertahankan 2 Pejabat Tinggi Negara yang kini dianggap bermasalah oleh rakyat Indonesia ? tanya Adhie Massardi.   

Adhie Massardi menambahkan bahwa keterlibatan anggota POLRI sebagai eksekutor yang melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen adalah contoh konkrit kegagalan BHD sebagai Kapolri.    

“Memalukan sekali, ada dalam kepemimpinan BHD di dalam struktur organisasi POLRI, bisa terjadi tragedi pembunuhan yang sangat sadis, brutal dan tidak manusiawi. Sadari bahwa keterlibatan anggota POLRI dalam kasus pembunuhan ini wajin dipertanggung-jawabkan oleh KAPOLRI BHD. Dan pertanggung-jawaban itu harus dikendalikan langsung oleh SBY dengan cara mencopot Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Sudah tidak ada alasan untuk berkelit. Kalau memang di Indonesia ini belum ada budaya bagi para pejabat untuk mundur secara kesatria kalau ada kesalahan fatal yang dilakukan dirinya atau lembaganya, maka Presiden yang harus pro aktif. Copot Kapolri !” pungkas Adhie Massardi.  

Seluruh dunia tersentak atas kasus pembunuhan ini.   

Era yang sangat canggih seperti ini, masih bisa terjadi tragedi pembunuhan ala mafioso yang bengis. Makelar pembunuhan yang menjadi fasilitator kebiadaban ini, patut dapat diduga sudah merancang segala sesuatunya agar PIHAK lain dalam struktur organisasi POLRI yang terkena getahnya.   

Bayangkan, sampai senjata api yang mau digunakan untuk membunuhpun, sudah diatur agar dibeli saja dari anggota TNI Angkatan Laut yang sudah disersi.   

POLRI yang harusnya menjadi pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, justru ada oknumnya yang menjadi PEMBUNUH bagi rakyatnya sendiri. 

POLRI yang benar-benar sangat dicintai dan dibanggakan oleh rakyat Indonesia, ternyata ada oknumnya yang menjadi PEMBUNUH bagi rakyatnya sendiri.     

   

Tapi lepas dari permasalahan ini, fakta riil yang harus diacungi jempol adalah KINERJA POLDA METRO JAYA dibawah kepemimpinan Irjen Polisi Wahyono.

Siap, ini kerja yang membanggakan Jenderal ! Selamat.

Tidak gampang untuk menangani situasi yang pelik seperti ini. Bayangkan, POLDA METRO JAYA harus berhadap-hadapan dengan seorang Pejabat Tinggi Negara yang sedang aktif di puncak kekuasaannya karena patut dapat diduga tersandung dalam kasus hukum berbau anyir pembunuhan.

Jempol kami acungkan untuk Jajaran Penyidik Reserse di Direktorat Kriminal Umum dibawah pimpinan Kombes Mochamad Iriawan (IWAN).

Selamat, sekali lagi Selamat.

Hampir saja, proses pemeriksaan ini terancam kacau balau karena patut dapat diduga Pihak KEJAKSAAN AGUNG sudah kebelet untuk memuntahkan dendam mereka kepada Antasari. Sehingga, keputusan pencekalan sudah diumumkan kepada masyarakat. Padahal POLDA METRO JAYA mengirimkan surat panggilan untuk Antasari sebagai SAKSI.

Ini menjadi pelajaran untuk HENDARMAN SUPANDJI sebagai Jaksa Agung.

Anda juga harus belajar lebih santun, beretika dan menghormati proses hukum yang sedang dijalankan oleh Pihak Kepolisian. Ya, kami berbicara kepada HENDARMAN SUPANDJI.

Masak tidak malu, berperilaku seperti itu di hadapan rakyat Indonesia ?

Sabar dong sedikit. Anda kan juga aparat penegak hukum. Masak anda tidak memperhitungkan bahwa pengumuman tentang pencekalan itu akan menjadi kontradiksi dengan tugas yang dijalankan Pihak Kepolisian.

Patut dapat diduga bahwa seorang jurubicara tidak akan pernah “bunyi”, kalau tidak ada perintah dari JAKSA AGUNG.

Kan bisa jadi berantakan semuanya kalau misalnya ada seseorang yang sudah pasti akan dijadikan tersangka, justru melarikan diri karena patut dapat diduga ia takut menghadapi kenyataan.

    

HENDARMAN SUPANDJI harus sadar dong bahwa yang dihadapi dan ditangani oleh POLDA METRO JAYA dalam kasus ini, bukan warga negara kelas dua atau barang rongsokan yang tidak ada harganya. 

POLDA METRO JAYA harus memeriksa seorang Pejabat Tinggi Negara, camkan itu !

Untuk anda, yang bernama HENDARMAN SUPANDJI, sadarilah bahwa tindakan anda sangat disayangkan oleh banyak Pihak.

Hormati wilayah tugas dari INSTANSI lain yang memerlukan prinsip kehati-hatian dalam menjalani dan menanganinya. Memalukan sekali kalau belum apa-apa, sudah ada yang mau “kipas-kipas” tanda kesenangan.

HENDARMAN SUPANDJI harus sadar dong bahwa INSTANSI KEJAKSAAN AGUNG juga tidak sangat bersih kinerjanya. Jadi, kalau patut dapat diduga sama-sama bermasalah maka ikuti saja aturan main yang berlaku dalam proses hukum.

    

(Ki-Ka : Jaksa Ester, Urip Tri Gunawan, Ratmadi Saptondo, Kemas Yahya Rahman & M. Salim, serta barang bukti kasus bandar narkoba MONAS)

Bagaimana kabarnya kasus JAKSA ESTHER yang patut dapat diduga menjadi TUKANG TILEP narkoba ?

Bagaimana kabarnya jaksa-jaksa penuntut umum yang menangani kasus narkoba Taman Anggrek yang melibatkan sindikat Liem Piek Kiong alias Monas karena patut dapat diduga JAKSA sudah kongkalikong untuk tutup mulut ketika MONAS tidak dilimpahkan berkas perkaranya oleh Pihak BARESKRIM POLRI kepada Pihak KEJAKSAAN.

Kejaksaan Agung harus banyak introspeksi diri karena patut dapat diduga dalam kurun waktu 2 tahun kepemimpinan HENDARMAN SUPANDJI, nama baik dan citra KEJAKSAAN AGUNG justru menjadi hancur berantakan dan bau busuk akibat banyaknya kasus-kasus yang memalukan. 

Dan kembali pada permasalahan penetapan status tersangka dan penahanan Antasari Azhar di Rutan Polda Metro Jaya, semua pihak menunggu hasil pemeriksaan pihak KEPOLISIAN.

Katakan yang bersalah itu memang bersalah !

Siapapun, bahkan jika patut dapat diduga ada oknum POLRI berpangkat KOMISARIS JENDERAL yang dimungkinkan menjadi MAKELAR PEMBUNUHAN ini. Mau sehebat apapun direkayasa agar pihak lain dalam internal POLRI yang terkena dampaknya, POLDA METRO JAYA jangan pernah ragu untuk menangkap yang pangkatnya sudah “diatas”.

Tidak tahu malu !  

Kalau manusia semacam ini memang tidak punya malu maka BANGSA, NEGARA & RAKYAT INDONESIA yang malu, punya seorang aparat POLISI berpangkat tinggi yang patut dapat diduga cari makan lewat uang kotor dan haram. Kalau patut dapat diduga, bakat utamanya adalah sebagai PEMBUNUH, maka jangan bersandiwara dan bersembunyi dibalik seragam polisi.

Brengsek, bikin malu Indonesia saja. 

Irjen Wahyono dan bawahannya yang sedang menangani kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen ini, juga harus segera mencari dan menangkap bekas caddy bernama RANI JULIANTI itu.

Tidak ada yang boleh lepas dalam situasi yang sangat blunder seperti ini.   

Kita harus ingat beberapa tahun silam, seorang Menteri dibacok kepalanya dan akhirnya meninggal dunia setelah menderita sakit bertahun-tahun. Ternyata yang ada dibalik kejahatan brutal itu adalah isteri mudanya.

Tangkap Rani Julianti. Dan tangkap, oknum Perwira Tinggi POLRI yang patut dapat diduga menjadi MAKELAR PEMBUNUHAN yang sadis, brutal dan tidak manusiawi ini.

Heran, kok tidak tahu diri. Bisa-bisanya melemparkan kesalahan kepada perwira menengah dan kepada Divisi lain agar orang lain yang terkena dampaknya.

Pengecut sekali. Banci saja, tidak akan pernah sepengecut ini. Sudah membunuh orang, sekarang mau enak-enakan cari selamat.

Hoi, keluar dong. Akui kesalahan !

Patut dapat diduga dari usaha sampingan sebagai BEKING BANDAR NARKOBA, sekarang patut dapat diduga menjadi MAKELAR PEMBUNUHAN.

Sadis ! Dan karena ketakutan jika kebusukan ini tercium lewat tulisan-tulisan KATAKAMI maka patut dapat diduga PERWIRA TINGGI yang liar ini terus berusaha merusak dan melakukan sabotase pada KATAKAMI.COM. Dan untuk menutup tulisan ini, diharapkan Jajaran Polda Metro Jaya tetap mengembangkan pemeriksaan pada proses penyidikan ini. Termasuk mencermati apakah patut dapat diduga ada keterlibatan KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE dan kelompoknya. 

Mohon maaf, kami tidak bermaksud memfitnah siapapun tetapi terus terang saja didalam struktur organisasi POLRI yang mempunyai kemampuan tinggi adalah GORIES MERE karena ia dan kelompoknya sudah sangat dilatih untuk sempurna ilmu serta kemampuannya dalam menangani terorisme. Tak cuma kemampuan dalam bidang IT, tetapi dalam hal tembak-menembak.

Patut dapat diduga, rekam jejak yang bersangkutan juga tidak sempurna dalam menapaki kariernya sebagai POLISI karena tercatat berulang kali terkait dalam pelanggaran hukum menyangkut penanganan narkoba. Tapi tidak ada satupun yang diproses secara hukum.

Misalnya, patut dapat diduga terlibat dalam kasus pencurian barang bukti sabu-sabu 13 kg beberapa tahun lalu dan meloloskan sebanyak 3 kali berturut-turut atas bandar narkoba Liem Piek Kiong (MONAS).

Patut dapat diduga, GORIES MERE terlibat juga dalam pembunuhan misterius secara sadis terhadap bandar narkoba HANS PHILIP dan salah seorang beking HANS PHILIP dari unsur KEPOLISIAN yaitu Sugeng Basuki justru bisa menjadi PENYIDIK Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada bulan Februari 2008.

Padahal Sugeng Basuki sudah pernah ditahan dan diancam dipecat dari POLRI karena memang terbukti menjadi beking bandar narkoba HANS PHILIP.

Patut dapat diduga, keberadaan Sugeng Basuki menjadi Penyidik KPK bisa menjadi entry point atau jalan masuk untuk menyingkap sindikat narkoba atau perjudian yang melingkari Antasari Azhar. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang POLISI yang sudah nyata-nyata ditemukan berbagai indikasi pelanggarannya sebagai beking (yang ditempatkan “beking utama yang sebenarnya”) untuk melindungi Hans Philip, bisa menjadi Penyidik KPK.

Ketika KAPOLRI dijabat oleh Jenderal Dai Bachtiar, Sugeng Basuki sudah dipastikan akan segera dipecat karena senjata api yang diberikan INSTITUSI POLRI kepada Sugeng Basuki justru diberikan kepada Hans Philip.

Tetapi pada akhirnya, Hans Philip mati secara sangat misterius yaitu patut dapat diduga ditembak di bagian kepala oleh Gories Mere dan kelompoknya di daerah Bogor.

Badan Intelijen Negara (BIN) mengetahui kabar bahwa patut dapat diduga Sindikat Gories Mere  terkait dalam “kematian misterius” bandar narkoba Hans Philip di daerah Bogor. Jika memang ada penegakan hukum di Indonesia, mengapa patut adfa tindakan PEMBUNUHAN terhadap bandar narkoba hans Philip ?

Ada apa sehingga seorang bandar langsung dibinasakan dan dilenyapkan dari muka bumi ini dengan cara yang sangat sadis ?

Dan patut dapat diduga, Kapolri yang saat itu menjabat (Jenderal Dai Bachtiar) tak berani menindak Gories Mere sehingga yang terkena dampaknya adalah kroco-kroco tingkat bawah dalam sindikat Gories Mere.

Patut dapat diduga, ada seorang POLISI di tingkat bawah sudah lebih dari 5 tahun mengalami depresi berat dan sangat terpukul karena ia sengaja dikorbankan oleh Gories Mere dalam kasus narkoba.

Akibat kalah pangkat maka si POLISI yang satu ini yang dengan mudah dipermainkan. Dan sampai sekarang, POLISI yang sangat malang terzolimi secara tidak manusiawi ini masih tetap ada di Mabes POLRI dan tetap mendekatkan diri dalam ajaran agama (Islam).

Patut dapat diduga, Gories Mere adalah orang yang harus bertanggung-jawab ketika terbongkar dan ketahuan ada sejumlah alat penyadap yang dipasang secara liar di kediaman dinas KAPOLRI.

Patut dapat diduga, ada teror dan intimidasi yang sangat berlebihan kepada sejumlah JURNALIS yang mencoba membuka berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan Gories Mere sejak beberapa tahun terakhir ini yaitu dari mulai pengrusakan sepeda motor, pengrusakan SITUS KATAKAMI dan rangkaian teror lainnya yang dialami sejumlah JURNALIS.

Patut dapat diduga, Gories Mere terlibat dalam sebuah kasus kematian “seseorang” yaitu saat Gories Mere dengan sengaja memerintahkan kepada seorang PENYIDIK POLRI agar mau menuliskan dalam hasil tugasnya bahwa mayat tang terbujur kaku di Anyer belasan tahun lalu adalah memang seorang  Direktur Bank yang terlibat dalam kasus ekonomi.

Sementara Penyidik itu samasekali belum melakukan pemeriksaan sesuai ketentuan hukum, apakah benar mayat itu adalah mayat dari Direktur Bank yang dimaksud.

Patut dapat diduga, Penyidik POLRI itu sempat mau “diberi pelajaran” oleh Gories Mere tetapi ada pihak-pihak lain di POLRI yang tahu bahwa Penyidik itu tidak bersalah (dan justru Penyidik inilah yang benar), langsung mengamankan si Penyidik tadi dan sampai sekarang masih tetap aktif bertugas di POLRI.

Patut dapat diduga, seorang Perwira Menengah yang berada didalam lingkaran (ring satu) Gories Mere pernah melakukan penyekapan terhadap seseorang agar mengakui hal-hal tertentu dalam kasus illegal logging.

Patut dapat diduga, Perwira Menengah ini jugalah yang berada dibalik pembuatan situs rekayasa dari negara Kanada tahun lalu yaitu situs yang memuat surat wasiat Amrozi cs. Bayangkan juga, Amrozi cs yang saat itu tinggal menunggu hari kematiannya di LP Batu Nusa Kambangan difitnah memuat surat wasiatnya lewat sebuah situs.

Kabarnya, Perwira Menengah POLRI yang “sok jago” itu berbulan-bulan bolog dari pekerjaannya di BARESKRIM POLRI, tanpa ada keterangan resmi apapun. 

Patut dapat diduga, Gories Mere adalah agen asing yaitu menyuplai rahasia negara dalam penanganan terorisme.

Salah satu contoh yaitu patut dapat diduga, sebelum penangkapan terhadap Zarkasih dan Abu Dujana tanggal 9 Juni 2007, Gories Mere mengundang sejumlah polisi dari negara tertentu untuk intes bertemu di sebuah hotel mewah di kawasan Kuningan Jakarta Selatan.

Dan setelah Zarkasih dan Abu Dujana tertangkap, patut dapat diduga Pemimpin Dunia yang pertama dihubungi Gories Mere untuk dilapori bahwa ada penangkapan terhadap teroris adalah Perdana Menteri Australia.

Presiden SBY dianggap angin lalu karena baru dilapori tentang penangkapan itu pada kesempatan yang berikutnya. Itu sebabnya, tahun 2007 itu Istana Kepresidenan tidak mengeluarkan pernyataan resmi sebagai tanda ucapan selamat atas penangkapan tersebut karena ada ketersinggungan yang sangat prinsip mengenai ulah Gories Mere yang patut dapat diduga memang dikenal sangat liar ini.

Kami tidak sembarang bicara tetapi patut dapat diduga kemampuan yang lihai dan licik berbahaya memang dikuasai semua tekniknya oleh GORIES MERE.

Sudahlah, kepada siapapun yang patut dapat diduga menjadi MAKELAR pembunuhan ini, anda bertanggung-jawab dong, Jagoan !

Kombes WW belum setinggi “perwira tinggi tertentu” ilmunya dalam melakukan segala sesuatu yang ujud-ujungnya adalah mencari usaha sampingan yang menghasilkan pundi-pundi.

Kombes WW, hanya perwira menengah yang pasti didalam kepalanya hanya mengikuti hierarki dan garis komando penugasan.

Apakah ia hanya sebagai alat dari oknum yang pangkat dan angkatannya jauh lebih tinggi ?

Apakah saat melakukan persiapan eksekusi ini, Kombes WW berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani sebab patut dapat diduga “perwira tinggi tertentu” yang sangat liar berbahaya di POLRI itu, memiliki kemampuan hipnotis yang sangat berbahaya dan ketergantungannya kepada ilmu supranatural memang sangat kuat. 

Disini POLRI harus berani membuka karena tidak ada yang kebal hukum di negara ini. Buka, buka semua.

Jangan pernah takut terhadap orang per orang. Jika memang ada kendala bagi POLDA METRO JAYA untuk menangani kelompok tertentu yang dikenal sangat UNTOUCHABLE di dalam struktur organisasi POLRI maka jangan pernah ragu-ragu meminta dukungan dari JAJARAN POLHUKKAM, bahkan kepada Presiden SBY dan Wapres JK.

Tuntaskan penyelesaian kasus ini. Keterlaluan yang menjadi MAKELAR pembunuhan ini.

Tidak tahu malu karena yang dilakukan seperti binatang liar yang buas kelaparan tetapi tidak bertanggung-jawab.

(MS)

Who Will Be The Next President ?

The Next President

The Next President

 

Kami Akan Laporkan Pada Presiden Obama, Dewan Keamanan & Komisi HAM PBB, UNODC & Mahkamah Internasional, Patut Dapat Diduga POLRI & BIN Melanggar HAM

Jakarta 1 Mei 2009 (KATAKAMI)  Barangkali, didalam pikiran dari masing-masing pelaku pengrusakan Situs KATAKAMI ini, aksi mereka yang sangat tak bermoral dengan terus merusak Situs KATAKAMI sudah menunjukkan kehebatan yang tak tertandingi oleh manusia manapun dimuka bumi ini. Selama hampir 5 bulan, kami mengalami teror, tekanan, intimidasi dan semua pelanggaran HAM yang sangat tidak manusiawi.

Patut dapat diduga, pelaku kejahatan yang sangat tak bermoral ini adalah KOMISARIS JENDERAL GM, KOMISARIS BESAR PG, dan oknum-oknum dari BADAN INTELIJEN NEGARA (BIN).

Mereka semua adalah Perwira Tinggi dan Perwira Menengah yang dilatih untuk menangani terorisme tetapi patut dapat diduga menyalah-gunakan semua kemampuan dan peralatan yang dimiliki NEGARA untuk menindas HAM kami sebagai manusia.

Belakangan, patut dapat diduga agar tidak ketahuan merusak KATAKAMi maka cara yang digunakan adalah merusak jaringan internet agar mudah berkelit di muka hukum bila dilakukan pemeriksaan. Jangan dipikir, kebenaran itu bisa ditiadakan dengan tangan-tangan kekuasaan yang liar tak terkendali !

Sebab itulah alasan yang disampaikan POLDA METRO JAYA sebagai Penyidik kepada KOMNAS HAM terkait kasus pengrusakan terhadap KATAKAMI. Kami memang melaporkan aksi pengrusakan ini kepada KOMNAS HAM juga, tetapi alangkah hebatnya jawaban dari Penyidik POLDA METRO JAYA bahwa pengrusakan itu sebenarnya tidak ada karena yang terjadi adalah kerusakan jaringan internet SAJA.

Pasca memuat tulisan SUCIWATI berjudul MUNIR CAHAYA YANG TAK PERNAH PADAM bulan Januari 2009, tgl 13-15 Januari 2009 telah terjadi pengrusakan terhadap SITUS KATAKAMI. Dan tanggal 14 Januari 2009, kami melaporkan pengrusakan itu kepada Pihak POLDA METRO JAYA. Kami juga telah melaporkan aksi pengrusakan ini kepada DEWAN PERS & KOMISI NASIONAL HAK AZASI MANUSIA (Komnas HAM).

Patut dapat diduga karena pengrusakan ini dilakukan oknum JENDERAL dari BADAN INTELIJEN NEGARA (BIN) dan oknum JENDERAL POLISI yaitu Kubu Komjen Gories Mere, maka kasus pengrusakan yang kami laporkan itu sengaja diambangkan dan dipeti-eskan. Patut dapat diduga, POLDA METRO JAYA sengaja mengatakan bahwa kasus ini masih dalam penyidikan tetapi dalam suratnya kepada kami disampaikan bahwa tidak ada aksi pengrusakan.

Bagaimana mungkin, tidak ada pengrusakan sebab beberapa waktu yang lalu saja semua publik dapat melihat bahwa patut dapat diduga aksi pengrusakan itu terperangkap sendiri sebab merusak tulisan yang kebetulan memuat foto PRESIDEN SBY ? Dan itu hanya salah satu contoh.

Belum contoh lainnya, yaitu semua tulisan yang menyampaikan seputar kasus bandar dan mafia narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dan pengrusakan-pengrusakan lain yang bukti fisiknya sangat banyak dan lengkap. Pada akhirnya, aksi pengrusakan yang patut dapat diduga dilakukan KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE sudah 2 kali berturut-turut kami laporkan kepada DIVISI PROPAM POLRI, dengan tembusan surat kepada Kapolri dan Irwasum Polri.

Kasihan, ada aparat penegak hukum dan aparat DINAS INTELIJEN yang patut dapat diduga gelap mata melakukan penyalah-gunaan kekuasaan mereka.

Dikira wartawan itu adalah SAMPAH, kali !

Sudah saatnya kami berbicara terbuka kepada Presiden Barack Obama, selaku Pimpinan Tertinggi di AS.

Mengapa kepada Obama ?

Ya, karena Obama harus mengetahui bahwa patut dapat diduga POLISI-POLISI yang selama bertahun-tahun dilatih kemampuannya secara hebat oleh  PERANGKAT AS yaitu CIA dan FBI terutama, justru melakukan pelanggaran HAM berat kepada JURNALIS.

Pelatihan dan berbagai bantuan khusus yang diberikan AS untuk meningkatkan kemampuan POLISI INDONESIA dalam memburu dan memberantas teroris, justru disalah-gunakan oleh sejumlah POLISI INDONESIA. Dan yang menyalah-gunakan itu, patut dapat diduga adalah orang yang paling bertanggung-jawab terhadap semua penanganan terorisme sejak 7 sampai 8 tahun terakhir.

Kami ingin Presiden Obama tahu bahwa di INDONESIA ini, patut dapat diduga ada kebiadaban yang sudah tidak bisa ditolerir lagi oleh akal sehat manusia sebab oknum POLISI yang harusnya menggunakan kemampuan dan peralatan teknologi mereka untuk memburu teroris, justru menindas JURNALIS.

Tentu, maksud dari AS sangat baik selama ini yaitu membantu INDONESIA agar bisa lebih lancar dalam melakukan pemburuan terhadap kalangan radikalisme / terorisme.

Tetapi sudah saatnya Presiden Obama diberitahu bahwa semua pengetahuan dan kemampuan yang sangat tinggi di bidang teknologi dari Pihak AS kepada TIM ANTI TEROR POLRI (terutama kepada KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE DAN KOMISARIS BESAR PETRUS GOLOSE sebagai tangan kanan GORIES MERE), patut dapat diduga sudah sangat disalah-gunakan secara luar biasa.

Jika memang benar, Presiden Obama sangat taat pada hukum dan ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa AS adalah sebuah bangsa yang menghormati dan mentaati hukum, maka pertanyaannya adalah … apakah Presiden Obama akan mendiamkan saja semua pengetahuan dan kemampuan teknologi yang ditransfer Pihak AS kepada POLISI INDONESIA terus menerus disalah-gunakan secara tidak manusiawi dan sudah melebihi batas-batas kewajaran.

Kami ingin Presiden Obama tahu bahwa di INDONESIA ini ada TERORIS PALING BERBAHAYA bernama ALI IMRON pernah mengejek JURNALIS dengan menggunakan ayat injil.

Lalu kami juga ingin agar Pihak ISRAEL mengetahui, dalam hal ini Presiden SIMON PERES & Perdana Menteri ISRAEL yang baru Benjamin Netanyahu dan semua jajaran Pemerintahan ISRAEL bahwa ALAT PENYADAP (INTERCEPTOR) yang dibeli TIM ANTI TEROR POLRI dari Pihak Israel beberapa tahun lalu dengan merek GI 2 seharga 4 Miliar Rupiah Per Unit, patut dapat diduga telah disalah-gunakan untuk melakukan penyadapapan ilegal berbentuk gangguan serius yang sudah bisa dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan kepada JURNALIS yang tidak bersalah.

 KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang mengatakan langsung kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI bahwa peralatan penyadapan mereka (TIM ANTI TEROR POLRI) dibeli dari ISRAEL. 

Kami ingin Presiden Obama, dan Pihak Internasional, yang selama ini sudah memberikan bantuan luar biasa kepada INDONESIA dalam penanganan terorisme, bahwa sebenarnya patut dapat diduga kewenangan, kemampuan dan seluruh perangkat teknologi untuk menangani terorisme di dalam strutur organisasi POLRI sudah disalah-gunakan secara sangat berlebihan.

Dewan Keamanan PBB, yang selama ini sudah secara tegas melarang aksi TERORISME di seluruh dunia — bahkan dengan mengeluarkan RESOLUSI DEWAN KEAMANAN –  perlu mengetahui bahwa patut dapat diduga, ada POLISI di INDONESIA yang justru menteror JURNALIS dengan cara memerintahkan kepada TERORIS PALING BERBAHAYA di Indonesia yaitu ALI IMRON untuk mengejek JURNALIS tersebut dengan menggunakan ayat injil.

Teror sangat hebat pernah kami alami juga saat membongkar fakta yang mencengangkan bahwa ALI IMRON, teroris yang membuat bom yang meledak di Bali dan dikenal sebagai Kasus Bom Bali I itu, ternyata dibiayai hidup berpindah-pindah dari apartemen mewah ke hotel-hotel mewah. Bahkan dibuatkan buku otobiografi mewah yang dibiayai oleh KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE. Teror terkait berbagai aksi penyimpangan yang patut dapat diduga dilakukan komplotan GORIES MERE ini, kami soroti secara tajam sejak 3 tahun terakhir (dapat dibaca dokumentasinya di WWW.BLOGSKATAKAMI.WORDPRESS.COM).

Kami tidak sembarang mengkritik atau membongkar kasus yang asal-asalan sebab pada akhirnya memang GORIES MERE ditegur berulang-ulang kali oleh Pimpinan POLRI ketika itu dan akhirnya DICOPOT dari jabatannya sebagai Wakabareskrim Polri (baca tulisan berjudul HIDUP TERUS BERPUTAR, GORIES di WWW.BLOGKATAKAMI.WORDPRESS.COM)

SMS berbau SARA dari teroris ALI IMRON itu adalah penghinaan kepada seluruh umat Kristiani dan Katolik di muka bumi ini. Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata melaporkannya secara langsung kepada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kapolri Jenderal Polisi Sutanto.

Dan POLRI harus bertanggung-jawab mengenai hal itu karena sudah membiarkan seorang POLISI bisa seenaknya memerintahkan TERORIS mengejek dan menekan JURNALIS. Kami akan menjelaskan secara detail mengenai penghinaan dan ejekan berbau SARA dari teroris itu di bagian berikutnya dalam tulisan ini. 

Sudah saatnya kami menyampaikan kepada Presiden Barack Obama (yang membawahi CIA dan FBI), Dewan Keamanan PBB, Komisi HAM PBB, UNODC (yang menangani masalah NARKOBA di seluruh dunia) dan Mahkamah Internasional bahwa patut dapat diduga sejumlah Jenderal di Indonesia ini, yang selama bertahun-tahun dibantu dan dilatih kemampuannya oleh Pihak Internasional untuk menangani masalah terorisme tetapi patut dapat diduga malah menindas JURNALIS yang mengungkap aib serta dugaan pelanggaran hukum mereka.

UNODC atau United Nations Office on Drugs and Crime sebagai lembaga internasional dibawah bendera PBB perlu melakukan investigasi, mengapa patut dapat diduga seorang POLISI di Indonesia ini bisa menjadi beking dari bandar dan mafia narkoba jaringan internasional yaitu Liem Piek Kiong alias MONAS (yang pada saat ditangkap untuk ketiga kalinya bulan November 2007, kedapatan memiliki 1 JUTA PIL EKSTASI).

UNODC sebagai lembaga internasional dibawah bendera PBB perlu melakukan investigasi khusus, mengapa patut dapat diduga seorang POLISI bisa meloloskan bandar dan mafia narkoba jaringan internasional sebanyak 3 kali berturut-turut dan semua barang bukti UANG kabarnya digunakan oleh Pihak Bareskrim POLRI yang pada saat itu dipimpin oleh Kabareskrim Bambang Hendarso Danuri).

Terhadap kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar dan mafia narkoba Liem Piek Kiong ini yang akhirnya ramai diberitakan MEDIA MASSA di Indonesia, MABES POLRI terpaksa melakukan pemeriksaan menyeluruh tetapi pada akhirnya hanya mencopot 5 orang penyidik berpangkat rendah dan menengah saja.

Tanpa menyentuh sedikitpun, KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang patut dapat diduga justru menjadi beking utama yang menyebabnkan Liem Piek Kiong alias MONAS bisa lolos 3 kali berturut-turut dari jerat hukum. Sementara, isteri dari MONAS yaitu Cece sudah mendapatkan VONIS MATI pada bulan September 2008.

Tak cuma MONAS saja, patut dapat diduga KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE juga meloloskan 5 orang bandar narkoba lainnya yang ditangkap bersama-sama dengan Monas di Apartemen Taman Anggrek bulan November 2007. Sebab, yang berkasnya dilimpahkan kepada Pihak Kejaksaan hanya 3 orang saja.

(Dokumentasi tulisan mengenai Bandar Liem Piek Kiong atau MONAS bisa dibaca di WWW.BLOGSKATAKAMI.WORDPRESS.COM dan WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM)

Dan patut dapat diduga, KEJAKSAAN juga ikut bermain didalam kasus ini sehingga UNODC juga perlu melakukan investigasi terhadap Hendarman Supandji sebagai Jaksa Agung beserta Jajarannya.

Lima bulan bukanlah waktu yang sedikit untuk mengalami semua teror, tekanan, intimidasi dan pelanggaran HAM yang sangat berat ini. Dan selama 5 bulan ini, kami dipermainkan oleh semua aksi kebiadalan peralatan teknologi dan fisik kamipun mendapatkan teror secara langsung.

Jika semua tindakan membabi buta ini dilakukan karena kami BERSALAH misalnya, barangkali bisa diterima oleh akal sehat. Tetapi jika karena tugas-tugas jurnalistik kami dapat membongkar semua dugaan pelanggaran hukum yang patut dapat diduga dilakukan sejumlah OKNUM POLISI maka kami diteror, ditekan dan diperlakukan seenaknya.

Patut dapat diduga, teror, tekanan dan intimidasi dari Komisaris Jenderal Gories Mere ini sangat besar bobotnya agar kami mau berbalik untuk akhirnya menulis yang penuh puja dan puji. Jika itu yang dilakukan maka teror, tekanan dan semua intimidasi yang sangat kotor, patut dapat diduga akan dihentikan bila manusia yang bermasalah begitu banyak dengan kasus hukum ini dipuja dan dipuji.

Dunia internasional, bisa jadi akan terheran-heran jika mengetahui ada “KECERDASAN” yang patut dapat diduga sengaja dilakukan oleh Pimpinan tertentu untuk memanfaatkan sejumlah bawahan yang bermasalah dengan hukum untuk dipakai sebagai ALAT PENGUASA.

Kami mengecam keras sikap yang sangat tidak bertanggung-jawab dari PIHAK POLRI, karena patut dapat diduga tidak berani menindak secara tegas aksi pengrusakan SITUS KATAKAMI.

 

Kami mengecam keras sikap yang sangat arogan dari KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang patut dapat diduga sudah menjadi manusia yang sangat membahayakan MEDIA MASSA NASIONAL, jika terus menerus dibiarkan dan didiamkan melakukan apa saja yang sifatnya merusak aset yang dimiliki MEDIA MASSA.

Rekam jejak yang bersangkutan ini juga sangat buruk terkait penanganan terorisme sejak 7 sampai 8 tahun terakhir karena sejak awal tidak pernah mengizinkan dan memberikan akses pemberitaan kepada MEDIA MASSA NASIONAL.

Fakta mengatakan bahwa bertahun-tahun GORIES MERE hanya memberikan eksklusivitas pemberitaan kepada satu media televisi saja dan tindakan pongah sangat memalukan ini akhirnya bisa DIBASMI setelah kalangan wartawan bersatu untuk mengajukan gugatan atau protes massal kepada Kapolri Jenderal Sutanto.

Salah satu pertimbangan mencopot GORIES MERE sebagai WAKABARESKRIM adalah karena patut dapat diduga telah dengan sengaja membocorkan rahasia negara dengan memberitahukan hasil-hasil penyidikan untuk diberitakan EKSKLUSIF kepada satu media televisi saja.

Dan tindakan itu secara tegas telah mendapatkan teguran keras dari Pimpinan POLRI ketika itu yaitu Jenderal Sutanto. Sekedar untuk melengkapi saja, sepanjang Pemimpin Redaksi KATAKAMI gigih menyuarakan perlunya keadilan dalam akses pemberitaan penanganan terorisme dan menentang keras EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN, Gories Mere juga melakukan teror demi teror sangat sadis sehingga setiap tekanan atau teror yang berkepanjangan sampai saat ini yang dilakukannya bukan lagi menjadi hal yang baru.

Manusia yang satu ini yaitu Gories Mere, patut dapat diduga memang asngat mudah dan terbiasa mencelakai, merugikan dan merampas hak-hak hidup orang lain. Belakangan, patut dapat diduga ia sempat berusaha keras agar KATAKAMI bisa ditundukkan. Terlebih saat mengetahui bahwa patut dapat diduga Irjen Wayu Saronto dan sejumlah Agen Intelijen BIN melakukan pengrusakan serta teror fisik kepada KATAKAMI sejak Januari 2009.

Patut dapat diduga karena ingin memanfaatkan situasi itu, sempat Gories Mere merasa paling hebat untuk menjadi DEWA PENYELAMAT tetapi ternyata terbongkar perilaku liarnya yaitu patut dapat diduga ingin menjajah serta mengendalikan KATAKAMI demi kepentingan dirinya untuk bisa dapat durian runtuh menjadi KAPOLRI atau KABARESKRIM.

Saat Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata memenuhi panggilan POLDA METRO JAYA Sebagai SAKSI PELAPOR akhir Januari 2009 lalu misalnya, bisa-bisanya Saudara Gories Mere “sok pamer” perhatian dengan menghubungi Kepala Unit Cyber Crime Kriminal Khusus POLDA METRO JAYA untuk memesankan agar kasus pengrusakan ini ditangani secara baik (sebab khusus untuk kasus pengrusakan yang kami laporkan, patut dapat diduga memang dilakukan OKNUM BADAN INTELIJEN NEGARA dan karena mengetahui bahwa itu adalah aksi oknum BIN maka sejumlah Polisi menyambut baik pelaporan kami. Tetapi, cukup sampai disitu saja karena ternyata patut dapat diduga tidak ada hasil yang signifikan.

Sama seperti kasus MUNIR, ada orang mati yang dibunuh tetapi pembunuhnya tidak bisa ditemukan sampai hampir 5 tahun penanganannya. Begitu juga dengan aksi pengrusakan KATAKAMI yang terus menerus terjadi, ada DAMPAK KERUSAKAN yang tetap terjadi sampai saat ini tetapi TIDAK ADA pelaku pengrusakannya. Keterlaluan !

Patut dapat diduga, manusia yang satu ini sangat sengaja ingin mengendalikan KATAKAMI untuk menuliskan sesuatu yang menyudutkan pihak tertentu didalam internal POLRI yang menjadi musuh bebuyutan atau pihak yang sangat tidak disukai oleh Gories Mere secara pribadi. Tentu, kami menolak secara tegas dan tidak sudi karena patut dapat diduga sengaja mau diperalat, dijajah, dikendalikan dan dimanfaatkan seenaknya secara GRATISAN oleh manusia yang satu ini.

Kami mengecam keras sikap yang sangat arogan dari KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang patut dapat diduga memang menjadi beking dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, yang sudah 3 kali berturut-turut meloloskan bandar dan mafia narkoba itu dari jerat hukum. 

Patut dapat diduga, KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE ini sudah sangat kesetanan merusak dan menghalalkan segala cara, mengemis perhatian sampai peluang yang sekecil apapun ditempuh agar bisa menundukkan kami yaitu mengirim utusan untuk mengikuti ke gereja, ke sekolah anak dan kemanapun juga.

Dan patut dapat diduga, sejumlah oknum POLISI lainnya ikut memancing di air keruh yaitu diperintah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Patut dapat diduga, karena tersinggung dikritik lewat sejumlah tulisan KATAKAMI, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, juga pernah dan memang berpartisipasi merusak lewat tangan “ORANG LAIN”.

Kritikan, bukan berarti ingin menjatuhkan. Kritikan, adalah sebuah nasihat baik yang misinya adalah untuk membantu POLRI lebih profesional dan diingatkan bila memang melakukan atau memutuskan kebijakan yang kurang tepat bagi organisasi. 

Tak usah bersembunyi dibalik kedok apapun, bahkan jika patut dapat diduga menggunakan cara-cara yang dianggap sangat aman dan paling cantik untuk merusak sebuah situs.

Mau jadi apa INDONESIA ini, kalau patut dapat diduga POLISI-POLISI sendiri yang menyalah-gunakan kewenangannya hanya karena mengetahui KATAKAMI dibaca oleh banyak pihak sehingga berbagai kritikan akan diketahui pihak lain.

Aksi ini sudah sangat memuakkan kami. Kami tidak bisa bekerja maksimal karena hari demi hari hanya melayani ambisi dan kepentingan pihak-pihak yang patut dapat diduga sudah berkepanjangan menteror, melakukan intimidasi, pelanggaran HAM dan pengrusakan ini.

Cukup, termasuk POLISI manapun yang patut dapat diduga ikut memancing di air keruh. Apapun maksud dan tujuan ANDA, cukup. Kami tidak butuh lagi segala rekayasa yang patut dapat diduga dilakukan sesama POLISI.

Orang yang mendengar kabar bahwa KATAKAMI terus menerus dirusak saja, pasti akan bosan mengapa kok sepertinya tidak berhenti. Jangankan anda yang cuma jadi pendengar, kami yang mengalami jauh lebih bosan. Tak cuma pengrusakan, kami sekeluarga mendapat ancaman teror fisik yang serius selama berbulan-bulan dan itu sebenarnya sudah dilaporkan kepada PIHAK KEPOLISIAN.

Tetapi patut dapat diduga, yang menteror adalah oknum Petinggi POLRI sehingga didiamkan saja.

Kasihan, dikira kami takut dan mau tunduk kepada Komisaris Jenderal Gories Mere yang patut dapat diduga pernah mencuri 13 kg barang bukti sabu-sabu beberapa tahun lalu tetapi langsung mengembalikannya setelah ditegur keras oleh KAPOLRI SUTANTO.

Kalau ada yang bertanya, mengapa harus melaporkan ke Dewan Keamanan PBB, UNODC, Komisi HAM PBB dan Mahkamah Internasional ?

Kami akan balik bertanya, bagaimana jika ada Jenderal-Jenderal dan sejumlah Perwira Menengah Kepolisian di INDONESIA ini, yang sebenarnya dilatih dan diberi peralatan sangat canggih untuk memberantas kalangan terorisme itu, justru mengalah-gunakan semuanya itu hanya untuk menutupi dugaan pelanggaran hukum mereka sendiri ?

Dan dugaan pelanggaran hukum yang paling parah itu adalah menyangkut NARKOBA yang menjadi wilayah tugas UNODC. 

Patut dapat diduga karena terkuak menjadi beking bandar dan mafia narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, maka KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE membabi buta dan kesetanan sangat mengerikan melakukan berbagai aksi pengrusakan. 

MABES POLRI, jangan main-main terhadap kami.

Di tangan kami, ada sejumlah dokumen dan bukti yang menunjukkan bahwa MABES POLRI mendiamkan seorang Perwira Tinggi yang menyalah-gunakan kewenangannya menangani terorisme.

MABES POLRI jangan lupa, di tangan kami ada kaset rekaman presentasi liar dari KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang menuduh bahwa TNI adalah pelaku peledakan bom dan mengejek sangat hina bahwa POLDA JAWA BARAT (serta POLISI-POLISI lainnya) di Indonesia ini GOBLOK, TOLOL.

MABES POLRI jangan lupa, di tangan kami ada bukti pengiriman SMS dari KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang memforward pesan singkat TERORIS ALI IMRON untuk Pemimpin Redaksi KATAKAMI, yang isinya adalah mengutip ayat injil untuk mengejek Pemimpin Redaksi KATAKAMI yang beragama Katolik. SMS berbau SARA itu dikirimkan TERORIS ALI IMRON untuk menanggapi kritikan Pemimpin Redaksi KATAKAMI bahwa sudah sepantasnya teroris ini menjalani masa hukumannya didalam penjara sebab sejak vonis dijatuhkan tahun 2003, tidak pernah seharipun juga masa hukuman penjara seumur hidup itu dijalani.

MABES POLRI jangan lupa, di tangan kami ada bukti pengiriman ribuan SMS yang berasal dari KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang salah satu isinya adalah ANTI ISLAM.

Jangan pikir, kami sembarang bicara kepada publik atau untuk mengajukan pengaduan ke Dunia Internasional. Faktanya adalah, MABES POLRI membiarkan seorang JURNALIS diteror bertahun-tahun oleh seorang perwira tinggi Polisi yang patut dapat diduga memang mengalami gangguan kejiwaan yang sangat serius.

Apakah bukan gangguan kejiwaan namanya jika patut dapat diduga, seorang POLISI bisa lancang mengirimkan pesan singkat SMS dari seorang teroris paling berbahaya kepada JURNALIS yang mengkritiknya ?

Tidak akan ada negara manapun didunia ini yang bisa memaafkan itu, termasuk CIA dan FBI sekalipun.

Tidak akan ada negara manapun didunia ini — yang mayoritas memang menganut agama Kristen / Katolik — jika mereka mengetahui ada seorang JURNALIS di Indonesia yang dihina oleh TERORIS PALING BERBAHAYA yaitu Ali Imron dengan menggunakan ayat Injil yaitu sengaja mengutip perkataan dari YESUS KRISTUS. Hati-hati dengan masalah ini, karena patut dapat diduga MABES POLRI membiarkan TERORIS paling berbahaya menggunakan alat komunikasi HANDPHONE padahal statusnya masih sebagai terpidana dengan pidana kurungan SEUMUR HIDUP.

Kami sudah berbaik hati untuk tidak mempermasalah itu secara khusus tetapi sekarang sudah saatnya kami bertindak tegas. Kami sudah melaporkan sebanyak 2 kali berturut-turut kepada KAPOLRI & DIVISI PROPAM POLRI mengenai dugaan pengrusakan oleh KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE, tetapi tidak ada tindakan tegas.

Malah justru, pasca pelaporan itu yang patut dapat diduga merusak adalah kelompok tertentu dalam internal POLRI yang diperintah langsung oleh KAPOLRI BHD untuk merespon berbagai kritikan kami.

Kami mengkritik hal-hal yang patut dapat diduga memang merupakan penyimpangan dan pelanggaran. Dan itulah tugas serta fungsi dari PERS NASIONAL.

Belakangan ini, akibat ketakutan jika aksi pengrusakan itu terlihat secara FISIK MATA seperti yang terjadi sejak awal KATAKAMI didirikan, patut dapat diduga tren pengrusakan yang sekarang dilakukan adalah dengan menyalah-gunakan ALAT PENYADAP ATAU INTERCEPTOR agar mengganggu nomor telepon yang menjadi koneksi internet kami.

Entah itu, kelompok yang patut dapat diduga menjadi kubu Jenderal BHD, kubu KOMJEN GM, atau oknum dari BADAN INTELIJEN NEGARA (dibawah Komando para Deputi yaitu Saudara Benni dan Wahyu Saronto), belakangan semua memakai tren yang sama yaitu ramai-ramai memakai ALAT PENYADAP (INTERCEPT) untuk merusak dan mengganggu nomor telepon M2 yang menjadi koneksi internet kami.

Jika dibiarkan, maka tren ini akan menjadi AIB & ANCAMAN SERIUS bagi INDONESIA.

Kami tidak akan mentolerir lagi perbuatan yang sangat biadab seperti ini.

Apalagi, jika patut dapat diduga, DINAS INTELIJEN INDONESIA yaitu BIN juga kesulitan untuk menghentikan aksi teror, tekanan dan intimidasi mereka kepada kami — pasca dimuatnya tulisan SUCIWATI berjudul MUNIR CAHAYA YANG TAK PERNAH PADAM –.

Bagaimana HUKUM mau ditegakkan di negeri ini, jika patut dapat diduga AKSI TEROR, TEKANAN, INTIMIDASI, PELANGGARAN HAM & PENGRUSAKAN MEDIA seperti ini, justru dilakukan oleh Jenderal-Jenderal dan sejumlah perwira menengah POLRI ?

Bagaimana HUKUM mau ditegakkan di negeri ini, jika patut dapat diduga Presiden SBY memang mempertahankan dan justru memanfaatkan JENDERAL POLISI yang moralitasnya sangat buruk seperti Komisaris Jenderal Gories Mere ?

Kami tidak akan menyerah begitu saja kepada Jenderal Polisi yang patut dapat diduga sudah sangat busuk dan keterlaluan moralnya. Mengemis perhatian dan patut dapat diduga hendak memaksa kami untuk tunduk kepada dirinya. Kami tidak mengerti dimana letak kewibawaan HUKUM di negara ini !

Sekali lagi, kami tidak tinggal diam.

Jangan dipikir, dunia internasional akan mendiamkan aksi yang biadab seperti ini. Sudah digaji dengan menggunakan uang rakyat, mendapat berbagai fasilitas dan kemewahan, ditugasi menjaga keamanan dan penegakan hukum (khususnya dalam penanganan terorisme), tetapi patut dapat diduga yang dilakukan justru sebaliknya.

Dunia internasional tidak akan pernah bisa mentolerir jika patut dapat diduga ada seorang beking dari bandar dan mafia NARKOBA untuk jaringan internasional, berkedok sebagai POLISI dan hendak membinasakan JURNALIS yang mencium bau busuk pelanggaran hukum itu.

Dewan Keamanan PBB harus mengetahui bahwa ini adalah ancaman baru kepada dunia. Ini adalah ancaman baru bagi PERS INTERNASIONAL. Ini adalah ancaman baru bagi kehidupan manusia di muka bumi ini bahwa patut dapat diduga ada teroris yang lebih teroris dari teroris itu sendiri.

Sangat memalukan dan benar-benar mengundang rasa iba, karena patut dapat diduga ada KOMISARIS JENDERAL POLISI yang sudah gelap mata dan merasa paling hebat jika kelompoknya menyalah-gunakan ALAT PENYADAP untuk mengganggu koneksi internet, menteror dan melakukan pelanggaran ham kepada JURNALIS INDONESIA.

Saudara Gories Mere, Saudara Petrus Golose dan semua POLISI yang menjadi anggota kelompok ini, patut dapat diduga ANDA semua sudah melakukan kejahatan kemanusiaan yang kotor dan bau busuk.

Tunggu, kami akan buktikan kepada ANDA bahwa omongan kami bukan isapan jempol. Anda harus mempertanggung-jawabkan semua aksi yang kotor dan bau busuk ini.

Kami mempertanyakan dimana fungsi dari MENKOPOLHUKKAM WIDODO AS, sebab jabatan Menteri Senior yang sangat prestisius seperti itu tak mampu mengendalikan POLISI-POLISI yang patut dapat diduga sudah sangat liar dan membahayakan seperti ini.  (MS)